Belajar dari Sang Maestro: Proses Menulis dan Publikasi Tulisan

Sahabat Hermanto. Kembali kita belajar dari seorang Pak Cah, sebutan dari Pak Cahyadi Takariawan. Pada video yang kedua ini, Pak Cah menyampaikan tentang modal untuk menjadi penulis. Banyak pertanyaan dari penulis pemula, apakah modal utama untuk menjadi seorang penulis adalah bakat. Ternyata menurut Pak Cah, bakat bukan modal untuk menjadi penulis. Jadi, jangan sekali-kali mengatakan, saya tidak bisa menulis karena saya tidak ada bakat menulis. Walaupun peran bakat tetap ada, tapi kita tidak bisa hanya mengandalkan bakat untuk menjadi  seorang penulis. Kita tetap harus belajar menulis  untuk menjadi seorang penulis. 


Menurut Pak Cah, ada 6 modal untuk menjadi penulis, yaitu:

1. Tekad mantap

Tekad mantap ini merupakan modalitas utama dan luar biasa pentingnya untuk menjadi penulis. Untuk menjadi seorang penulis yang  profesional, kita harus mempunyai tekad mantap ini. Dengan tekad mantap ini, berbagai kesulitan akan mudah kita atasi. Semua kendala dalam menulis akan mudah kita selesaikan dan dicari solusinya. Orang sering bilang, "Saya lagi tidak _mood_". Tetapi, dengan tekad yang kuat, masalah mood ini bisa diatasi.  

2. Banyak membaca

Jangan malas membaca. Kalau mau menjadi penulis produktif, kita harus banyak membaca. Banyak yang bisa menjadi sumber bacaan, yaitu berita, koran, majalah, artikel di website, blog, portal berita, atau buku-buku di perpustakaan. Semakin banyak membaca semakin banyak modal untuk menulis. Membaca akan menjadikan kita kaya akan bahan tulisan.

3. Banyak bergaul

Menjadi penulis bukan mengurung diri di kamar, tidak bergaul. Tulisan akan lebih hidup, lebih realistis, sesuai dengan realita masalah kemasyarakatan apabila kita banyak bergaul, banyak melihat, banyak berteman, membuka diri dan mengobrol dengan siapapun. Membangun persahabatan tidak hanya dengan orang yang kita kenal tapi bisa juga dengan orang yang belum kita kenal baik langsung maupun tidak langsung. Persahabatan itu akan menambah informasi. Jika informasi tersebut kita saring untuk bahan tulisan maka tulisan kita akan lebih kaya atau lebih hidup.

4. Belajar bahasa dan kosa kata

Mungkin awal kita menulis, tidak banyak kosa kata yang kita miliki. Itu tidak mengapa, kita tetap bisa mulai menulis dengan kosa kata yang kita punya. Selanjutnya, kita bisa menambah kosa kata dengan cara membuka kamus (KBBI) dan membaca tulisan dari penulis senior. Pada saat kita melihat kosa  kata di kamus, kita tidak mendapatkan cara penggunaannya. Berbeda dengan jika kita mendapatkan  kosa kata dari tulisan dari penulis senior maka kita akan mendapatkan contoh penggunaan  kosa kata tersebut dalam kalimat. Yang tidak kala pentingnya adalah menuliskan kosa  kata yang kita dapatkan baik dari kamus ataupun tulisan. 

Setelah kita memiliki banyak kosa kata, tentu kita harus bisa menyusun kalimat yang baik. Kalimat yang baik akan membentuk paragraf yang baik.

5. Memiliki sarana menulis

Agar dapat menulis kita harus mempunyai sarana menulis, seperti: laptop, gadget, smartphone dan lain sebagainya.

6. Tekad menghasilkan karya yang bermutu

Kita harus mempunyai tekad agar bisa menhasilkan karya yang bermutu. Karya yang bermutu itu adalah karya yang dapat mencerahkan dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Pak Cah melanjutkan, sebelum mulai menulis kita harus melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Menentukan jenis tulisan yang akan dibuat. Tulisan bisa berupa fiksi atau non-fiksi atau gabungan dari keduanya.

2. Menentukan tema tulisan. Tema tulisan ini bisa juga dimulai sebelum menentukan jenis  tulisan. Misalnya, tema ini terkait dengan artikel atau karya ilmiah.

3. Sasaran tulisan. Setiap sasaran mempunyai jenis dan corak. Jika tulisan itu anak-anak maka bahasa disesuaikan dengan dunia anak-anak. Jika tulisan itu dalam bentuk buku harus dipertimbangkan untuk menggunakan _font_ yang besar. Begitu juga jika tulisan kita sasarannya remaja maka harus disesuaikan dengan istilah-istilah remaja. Intinya, corak tulisan itu harus disesuaikan dengan sasarannya. 

4. Membuat kerangka tulisan/outline. Kerangka tulisan bisa kita tuliskan atau cukup tergambar dalam benak kita. Yang penting adalah kita harus  mempunyai kerang tulisan itu. Seperti pada tulisan ilmiah, tulisan harus mempunyai pendahuluan, isi dan penutup.

Kerangka ini akan sangat pening pada saat kita menulis buku. Misalnya, kita akan membuat buku itu menjadi 10 bab. Dengan kita  mempunyai outline dari masing-masing bab itu, kita akan bisa memilih bab yang mudah untuk ditulis duluan. Termasuk menulis artikel pendek, kita bisa memulai dengan sub artikel yang mudah dulu. Hal ini tentu akan memberikan kelancaran dalam menulis. Karena jika dari awal kita sudah mengalami kesulitan tentu akan sulit kita melanjutkannya.

Pada video berikutnya Pak Cah menyampaikan tentang sosialisasi atau publikasi tulisan. Ada tiga kemampuan dalam menulis, yaitu menulis, mengedit dan mensosialisasikan atau mempublikasikan. Pekerjaan ini bisa  dilakukan oleh orang yang berbeda.

Mengapa pentingnya mempublikasikan suatu tulisan? Karena dengan mempublikasikannya maka tulisan itu bisa memberikan kemanfaatan pada orang lain. Tapi tidak setiap tulisan itu harus dipublikasikan. Tulisan yang bersifat katarsis yang bisa memberikan manfaat pada orang yang menulisnya tidak perlu dipublikasikan.

Menurut Pak Cah, ada beberapa manfaat publikasi tulisan,yaitu:

1. Mendorong untuk menulis tulisan berikutnya.

Jika tulisan yang kita tulis langsung dipublikasikan tentu kita akan tertantang untuk membuat tulisan berikutnya. Misalnya, kita membuat tulisan kemudian kita posting di website, maka kita akan tertantang untuk membuat tulisan berikutnya. Karena kalau kita mempunyai web/blog sendiri maka kita tidak akan membiarkan web kita kosong dalam waktu  yang lama.

2. Mendapatkan nilai kepuasan. 

Kita akan merasa puas jika tulisan kita sudah dipublikasikan. Misalnya, kita membuat buku, kita akan merasa puas ketika buku yang kita buat itu sudah dicetak dan dipublikasikan

Di zaman sekarang ini publikasi sangat mudah berbeda sekali dengan zaman dulu. Pada zaman dulu, karena sangat terbatasnya media publikasi maka  kita harus antri di koran. Tim redaksilah yang berhak menentukan apakah tulisan kita bisa dipublikasikan. Beda dulu beda sekarang. Dengan hadirnya  teknologi internet, kita bisa mempublikasikan tulisan kita langsung setelah kita buat. Kita kapankpun bisa memposting tulisan kita melalui website atau blog yang kita kelola. Jadi, keputusan publikasi itu ada di tangan kita bukan  tim redaksi.

Pak Cah membagi tips bagaimana cara kita mempublikasikan tulisan kita. Ada beberapa cara publikasi tulisan kita, yaitu:

1. Melalui media sosial, yaitu WA, IG, Facebook. Gunakan media itu sebagai sarana untuk mempublikasikan tulisan kita. Akan lebih baik jika tulisan kita bisa dikirim ke grup-grup dari media sosial itu. Menariknya, tulisan kita yang dikirim ke media sosial ini tentu akan mendapatkan respon  atau feedback  dari pembaca.

2. Melalui web atau blog. Tulisan yang kita muat di web atau blog ini lebih serius dibandingkan dengan media sosial. Web tersebut bisa punya sendiri atau pihak lain. Contoh web pihak ketiga yang sangat populer yaitu kompasiana. Kita cukup membuat akun. Keuntungan kita memanfaatkan blog pihak  lain, kita tidak perlu melakukan pemeliharaan. Tentu ini berbeda jika  kita mempunyai blog sendiri. Tetapi ada keuntungan lebih ketika kita mempunyai blog sendiri. Keuntungannya adalah kita bisa mengatur jadwal posting.

3. Menggunakan media dalam bentuk cetakan, misalnya majalah, koran, jurnal atau buletin. Untuk dapat masuk ke media ini harus melewati tim redaksi. Mereka akan menyeleksi apakah tulisan kita layak untuk dipublikasikan. Dengan banyaknya naskah  yang masuk ke redaksi, kita harus berkompetisi agar tulisan kita diterima oleh tim redaksi.

4. Mempublikasikan tulisan kita dalam bentuk buku.

Itulah cara publikasi yang bisa kita lakukan terhadap tulisan yang kita buat. Tapi sebelum mempublikasikan, kemampuan menulis  dan mengedit harus kita lewati. Dalam proses belajar ini, Pak Cah menyarankan agar ketiga kemampuan itu harus kita miliki. Selamat belajar.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar dari Sang Maestro: Proses Menulis dan Publikasi Tulisan"

Posting Komentar